Sekolah Menengah Al Firdaus Melakukan Lesson Study

16684402_346345785765592_6198020444504827618_n

Salah satu masalah atau topik pendidikan yang belakangan ini menarik untuk diperbincangkan yaitu tentang Lesson Study, yang muncul sebagai salah satu alternatif guna mengatasi masalah praktik pembelajaran yang selama ini dipandang kurang efektif. Seperti dimaklumi, bahwa sudah sejak lama praktik pembelajaran di Indonesia pada umumnya cenderung dilakukan secara konvensional yaitu melalui teknik komunikasi oral.

Praktik pembelajaran konvesional semacam ini lebih cenderung menekankan pada bagaimana guru mengajar (teacher-centered) dari pada bagaimana siswa belajar (student-centered), dan secara keseluruhan hasilnya dapat kita maklumi yang ternyata tidak banyak memberikan kontribusi bagi peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran siswa. Untuk merubah kebiasaan praktik pembelajaran dari pembelajaran konvensional ke pembelajaran yang berpusat kepada siswa memang tidak mudah, terutama di kalangan guru yang tergolong pada kelompok laggard (penolak perubahan/inovasi).

Dalam hal ini, Lesson Study tampaknya dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif guna mendorong terjadinya perubahan dalam praktik pembelajaran di Indonesia pada umumnya dan di Sekolah Menengah Al Firdaus pada khususnya untuk menuju ke arah yang jauh lebih efektif.

Dalam semester genap di tahun pelajaran 2016/2017 Sekolah Menengah Al Firdaus mengadakan program Lesson Study untuk beberapa guru mata pelajaran secara bergiliran.

Namun perlu diketahui hakikat lesson study yang sebenarnya, agar jangan ada kesalahan dalam memahami apa sesungguhnya lesson study tersebut. Lesson study sama sekali bukan termasuk salah satu dari genre metode mengajar yang selama ini telah kita kenal, seperti ceramah, tanya jawab, diskusi kelompok, dan inkuiri.

Sekali lagi, lesson study tidak termasuk dalam kelompok metode mengajar tersebut, karena lesson study bukanlah metode mengajar atau pun model pembelajaran yang telah kita kenal selama ini, tetapi lesson study merupakan salah satu upaya pembinaan untuk meningkatkan proses pembelajaran yang dilakukan oleh sekelompok guru secara kolaboratif dan berkesinambungan, dalam merencanakan, melaksanakan, mengobservasi dan melaporkan hasil pembelajaran.

Lesson Study bukan sebuah proyek sesaat, tetapi merupakan kegiatan terus menerus yang tiada henti dan merupakan sebuah upaya untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip dalam Total Quality Management, yakni memperbaiki proses dan hasil pembelajaran siswa secara terus-menerus, berdasarkan data. Lesson Study merupakan kegiatan yang dapat mendorong terbentuknya sebuah komunitas belajar (learning society) yang secara konsisten dan sistematis melakukan perbaikan diri, baik pada tataran individual maupun manajerial.

Dalam pelaksanaan program lesson study di Sekolah Menengah Al Firdaus yang akan dilihat adalah sejauh mana guru berperan sebagai pentransfer nilai-nilai pedagogic, sikap perilaku, kedalaman materi, keislaman, lingkungan, dll

Seperti pada umumnya, beberapa hal yang harus diperhatikan dalam tahapan pelaksanaan lesson study , diantaranya:

  1. Guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah disusun bersama.
  2. Siswa diupayakan dapat menjalani proses pembelajaran dalam setting yang wajar dan natural, tidak dalam keadaan under pressure yang disebabkan adanya program Lesson Study.
  3. Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, pengamat tidak diperbolehkan mengganggu jalannya kegiatan pembelajaran dan mengganggu konsentrasi guru maupun siswa.
  4. Pengamat melakukan pengamatan secara teliti terhadap interaksi siswa-siswa, siswa-bahan ajar, siswa-guru, siswa-lingkungan lainnya, dengan menggunakan instrumen pengamatan yang telah disiapkan sebelumnya dan disusun bersama-sama.
  5. Pengamat harus dapat belajar dari pembelajaran yang berlangsung dan bukan untuk mengevalusi guru.
  6. Pengamat dapat melakukan perekaman melalui video cameraatau photo digital untuk keperluan dokumentasi dan bahan analisis lebih lanjut dan kegiatan perekaman tidak mengganggu jalannya proses pembelajaran.
  7. Pengamat melakukan pencatatan tentang perilaku belajar siswa selama pembelajaran berlangsung, misalnya tentang komentar atau diskusi siswa dan diusahakan dapat mencantumkan nama siswa yang bersangkutan, terjadinya proses konstruksi pemahaman siswa melalui aktivitas belajar siswa. Catatan dibuat berdasarkan pedoman dan urutan pengalaman belajar siswa yang tercantum dalam RPP.

Apa itu Matematika?

calculus

Matematika bukan merupakan suatu hal yang asing yang terdengar di telinga kita, setiap saat pasti kita selalu dihadapkan dengan yang namanya matematika. Matematika merupakan ratunya ilmu, semua cabang ilmu pasti memerlukan perhitugan. Matematika berasal dari bahasa latin “mathematika” yang mulanya diambil dari bahasa yunani “mathematike” yang berarti mempelajari.

Perkataan itu mempunyai asal kata mathema yang berarti pengetahuan atau ilmu. Kata mathematike berhubungan pula dengan kata lainnya yang hampir sama yaitu mathein atau mathenein yang artinya belajar. Jadi, berdasarkan asal katanya maka matematika berarti ilmu pengetahuan yang didapat dengan berpikir.

Secara etimologi, pengertian matematika berasal dari bahasa latin manthanein atau mathemata yang berarti “belajar atau hal yang dipelajari” (things that are learned). Dalam bahasa Belanda disebut wiskunde atau ilmu pasti, yang kesemuanya berkaitan dengan penalaran. Matematika adalah ilmu yang tidak jauh dari realitas kehidupan manusia. Proses pembentukan dan pengembangan ilmu matematika tersebut sejak jaman purba hingga sekarang tidak pernah berhenti. Sepanjang sejarah matematika dengan segala perkembangan dan pengalaman langsung berinteraksi dengan matematika membuat pengertian orang tentang matematika terus berkembang.

Berikut ini adalah pengertian matematika yang disampaikan oleh para ahli:

  • Pengertian Matematika Menurut Riedesel:Matematika adalah kumpulan kebenaran dan aturan, matematika bukanlah sekedar berhitung. Matematika merupakan sebuah bahasa, kegiatan pembangkitan masalah dan pemecahan masalah, kegiatan menemukan dan mempelajari pola serta hubungan.
  • Pengertian Matematika Menurut Prof. Dr. Andi Hakim Nasution: matematika adalah ilmu struktur, urutan (order), dan hubungan yang meliputi dasar-dasar perhitungan, pengukuran, dan penggambaran bentuk objek.
  • Pengertian Matematika Menurut Susilo: Matematika bukanlah sekedar kumpulan angka, simbol, dan rumus yang tidak ada kaitannya dengan dunia nyata. Justru sebaliknya, matematika tumbuh dan berakar dari dunia nyata.
  • Pengertian Matematika Menurut Yansen Marpaung:Matematika adalah ilmu yang dalam perkembangannya penggunaanya menganut metode deduksi.
  • Pengertian Matematika Menurut Suwarsono:Matematika adalah ilmu yang memiliki sifat khas yaitu; objek bersifat abstrak, menggunakan lambang-lambang yang tidak banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, dan proses berpikir yang dibatasi oleh aturan-aturan yang ketat.
  • Pengertian Matematika Menurut  James and James(1976). Matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan jumlah yang banyak dan terbagi kedalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis dan geometri.
  • Pengertian Matematika Menurut  Johnson dan Rising(1972). Matematika adalah pola fikir, pola mengorganisasikan, pembuktian yang logik, matematika itu adalah bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas dan akurat, representasinya dengan simbol dan padat, lebih berupa bahasa simbol mengenai ide daripada mengenai bunyi.
  • Pengertian Matematika Menurut  Reys, dkk (1984). Matematika adalah telaah tentang pola dan hubungan, suatu jalan atau pola fikir, suatu seni, suatu bahasa dan suatu alat.
  • Pengertian Matematika Menurut Ruseffendi E. T(1988:23). Matematika terorganisasikan dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan, definisi-definisi, aksioma-aksioma, dan dalil-dalil dimana dalil yang telah dibuktikan kebenarannya berlaku secara umum, karena itulah matematika sering disebut ilmu deduktif.
  • Pengertian Matematika Menurut Kline (1973). Matematika itu bukan ilmu pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi adanya matematika itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan ekonomi, sosial dan alam.
  • Pengertian Matematika Menurut Paling (1982) dalam Abdurrahman (1999:252). Mengemukakan ide manusia tentang matematika berbeda-beda, tergantung pada pengalaman dan pengetahuan masing-masing. Ada yang mengatakan bahwa matematika hanya perhitungan yang mencakup tambah, kurang, kali dan bagi; tetapi ada pula yang melibatkan topik-topik seperti aljabar, geometri dan trigonometri. Banyak pula yang beranggapan bahwa matematika mencakup segala sesuatu yang berkaitan dengan berpikir logis.

Matematika merupakan suatu pelajaran yang tersusun secara beraturan, logis, berjenjang dari yang paling mudah hingga yang paling rumit. Dengan demikian, pelajaran matematika tersusun sedemikian rupa sehingga pengertian terdahulu lebih mendasari pengertian berikutnya.

B.FAKTA MATEMATIKA MASIH MEMBINGUNGKAN

Matematika merupakan salah satu area ilmu pengetahuan yang secara objektif menjelaskan apa yang dimaksud “benar”. Kebenaran muncul disebabkan teori matematika murni diturunkan menggunakan logika. Masalahnya, pada saat bersamaan, teori tersebut terkadang sangat aneh dan melawan intuisi.

Tapi tak hanya kita yang kebingungan saat mempelajari matematika, para akademisi matematika sendiri masih kebingungan memahami fakta empiris beberapa teori matematika. Berikut beberapa fakta matematika yang masih membingungkan, dan bisa jadi menciptakan kebosanan bagi banyak orang.

  1. POLA GEOMETRIS

Pola geometris merupakan jenis pola yang diturunkan secara matematis yang kini banyak digunakan di berbagai bidang, termasuk diluar bidang matematika sendiri. Arsitektur, fashion, dan desain visual merupakan bidang keilmuan yang banyak menerapkan pola geometris karena nilai estetika dan konsistensi yang dapat diciptakan lewat mengelaborasi persamaan matematika.

Pola geometris merupakan kebingungan yang muncul karena lewat pola yang terbatas, ternyata dapat menciptakan berbagai kemungkinan yang mendekati tidak terbatas. Oleh karena itu, dunia matematika menerapkan pola geometris sebagai teori pola, upaya matematika untuk menjelaskan dunia berdasarkan pola. Tujuannya menciptakan pola agar dunia lebih mudah diolah secara komputasi. Dalam istilah yang lebih luas, setiap keteraturan yang dapat dijelaskan dengan teori ilmiah merupakan pola. Oleh karena itu, matematika merupakan perangkat yang bisa juga dianggap sebagai sekumpulan pola

  1. BILANGAN EULER

Bilangan Euler merupakan bilangan yang bisa dibilang paling membingungkan, tapi beberapa ilmuwan juga menganggapnya sebagai bilangan yang paling indah. Mengapa begitu?

Pertama karena huruf “e” yang melambangkan bilangan irasional yang dimulai dengan 2,71828 … . Meski tak lazim, “e” tersebut justru sering menjadi dasar berbagai perhitungan matematika. Mulai dari tingkat pertumbuhan eksponensial, hingga tingkat peluruhan radioaktif. Dalam penggunaannya di bidang matematika, angka ini telah terlibat dalam berbagai properti yang sangat mengejutkan. Terhitung sejak konsep bilangan euler muncul, angka “e” hingga kini muncul pada banyak persamaan penting.

Setelah “e”, berikutnya “i” yang disebut juga sebagai “bilangan imajiner”. Bilangan i merupakan akar kuadrat dari -1 (√-1). Bilangan ini disebut i karena pada kenyataannya tidak ada bilangan yang dapat saling mengalikan hingga menghasilkan angka negatif. Kasus tersebut sering muncul dalam matematika sehingga dibutuhkan sesuatu yang dapat menjelaskan akar kuadrat dari negatif 1.

Bilangan euler belum selesai memberi kebingungan. Masih ada pi (π), rasio keliling lingkaran terhadap diameter, salah satu angka yang paling menarik dan paling dicintai di bidang matematika. Seperti “e”, pi juga sering sekali digunakan pada berbagai persamaan matematika dan fisika.

Ketiga elemen tersebut bersatu dan menimbulkan kebingungan sekaligus kekaguman di bidang matematika lewat rumus euler, yaitu sebagai berikut:

eix = cos(x) + i.sin(x)

Jika x = pi (π), maka rumus euler akan menjadi:

e = cos(π) + i.sin(π)
e = -1 + i.0
e = -1

Hubungan ketiganya yang terdapat pada persamaan diatas sepertinya sulit dibayangkan pada kehidupan sehari-hari sehingga terlihat seolah aneh, bahkan sepertinya sesuatu yang tidak nyata alias imajiner. Bilangan e (2,718…) merupakan bilangan positif. Bilangan yang menjadi pangkat adalah π(3,14…) merupakan bilangan positif dan i yaitu √-1. Bilangan positif, mestinya jika dipangkatkan oleh bilangan negatif apapun akan tetap menghasilkan bilangan positif. Namun rumus euler justru menunjukkan bahwa pangkat dengan bilangan imajiner malah menghasilkan angka negatif. Aneh, tapi nyata.

  1. SPIRAL BILANGAN PRIMA

Bilangan prima tidak dapat dibagi menjadi bilangan bulat kecuali dibagi oleh bilangan itu sendiri. Oleh karena itu, bilangan ini sering dianggap “atom” untuk dunia matematika. Meski bilangan ini begitu penting, distribusi dari bilangan prima masih menjadi misteri. Belum ada pola yang dapat menjelaskan bilangan mana yang merupakan bilangan prima. Bentuk keacakan bilangan prima membuatnya munculnya pola spiral Ulam yang sangat aneh.

Pada 1963, ilmuwan matematika Stanislaw Ulam menyadari adanya pola aneh saat mencorat-coret buku catatannya. Ia menyusun pola angka bilangan bulat dalam bentuk spiral. Saat itu, ia mengamati bahwa bilangan prima sepertinya selalu muncul dalam garis diagonal. Saat disusun dalam skala yang lebih besar, terdapat garis bilangan prima yang relatif lebih kuat dari yang lain. Terdapat dugaan matematis terkait mengapa pola bilangan prima ini muncul, tapi belum ada yang terbukti sejauh ini

  1. KEACAKAN DATA

Meski terkesan aneh, data yang acak sebenarnya tidak sepenuhnya acak. Terdapat pola yang relatif selalu terjadi saat data acak ditampilkan. Semakin besar kumpulan data, semakin teratur pula magnitude dari data tersebut, kemudian semakin kuat kecenderungan dari kemunculan pola tersebut.

Keacakan sendiri hingga kini masih menjadi kontroversi. Keacakan, yang ternyata dianggap sebagai kebalikan dari ketidakpastian, merupakan properti yang objektif. Terdapat hipotesis bahwa pada kenyataannya, keacakan tidak pernah terjadi. Misalnya pada kasus urutan bit yang sepertinya terlihat acak, tapi sebenarnya memiliki metode kriptografi tertentu sehingga urutan bit tersebut dapat memiliki makna yang teratur.

Itulah yang membuat keacakan hingga kini masih menjadi misteri matematika yang membingungkan. Jika memang terdapat metode kriptografi tertentu terhadap proses acak, bagaimana caranya untuk mengetahui apakah metode kriptografi tersebut saat proses yang diamati ternyata terkesan murni acak. Fenomena keacakan inilah yang menjadi dasar dari berbagai takhayul, sekaligus menjadi motivasi dalam berbagai penemuan di bidang sains dan matematika (Muslimin)

Menjadi Orang Tua Idola

titik

titikIdola adalah sosok yang menjadi pujaan dan biasanya dijadikan panutan oleh seseorang yang mengidolakan. Idola dapat dikatakan juga sebagai seorang model. Sang Idola akan diperhatikan oleh yang mengidolakan dari sisi fisik, kata-kata yang diucapkan, sikap dan perilakunya. Bila pembahasan ini tentang orang tua yang menjadi idola, maka orang tua seharusnya dapat menjadi pujaan dan model bagi anak.

Kita semua berharap orang tua akan menjadi idola tidak saja bagi anak-anaknya tetapi  juga untuk masyarakat. Orang tua yang hanya menjadi idola bagi anak, bisa jadi akan diasumsikan karena orang tua hanya melakukan sesuatu yang disukai oleh anak. Sedangkan bila orang tua menjadi idola bagi lingkungannya, maka hal itu karena orang tua tersebut telah berhasil mendidik anak-anaknya sehingga menjadi  anak yang berguna bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, negara dan agamanya.

 

Ada 3 faktor yang harus disiapkan oleh orang tua agar menjadi orang tua yang diidolakan:

Spiritual:

  1. Memiliki aqidah yang benar dan kuat, ibadah yang baik dan tekun, serta memiliki  akhlak mulia.
  2. Memiliki komitmen untuk berdakwah.
  3. Menjadi teladan.
  4. Memelihara hubungan suami istri

Kepribadian:

  1. Penyayang (cinta dan kasih sayang, lembut dan santun, menerima, memaafkan, menghargai,  perhatian)
  2. Kecerdasan emosi yang tinggi (mengerti tentang perasaan sendiri, orang lain, dan mampu membiba hubungan baik dengan orang lain)
  3. Komunikatif (keterbukaan, bercanda)
  4. Berpikir positif
  5. Disiplin

Keterampilan Mendidik

  1. Memahami perannya dengan jelas sebagai pendidik.
  2. Pemahaman yang baik tentang tugas perkembangan anak, kondisi emosi dan jiwa anak, karakter anak, dll.
  3. Memiliki ilmu untuk mengajar, antara lain:
  • Membuat perencanaan sederhana ala guru-guru di sekolah.
  • Memiliki pengetahuan tentang cara mengajar yang menyenangkan (penyampaian materi bertahap, sesuai dengan kemampuan anak, menerapkan cara yang interaktif, kreatif,  menyenangkan, dan menerapkan reward and punishmentdengan tepat).

Menjadi orang tua yang diidolakan tidak bisa terjadi dalam waktu sekejap. Orang tua  harus memiliki nilai tambah untuk menjadi seorang idola. Lalu, apakah kita sebagai orang tua telah memiliki nilai tambah di depan anak kita? Nilai tambah ini hanya akan dapat dicari dengan cara orang tua harus menjadi Pembelajar Sejati. Menjadi orang tua yang diidolakan anak-anak harus memiliki semangat untuk selalu belajar dan meningkatkan kualitas diri. Tanpa belajar kita akan banyak terlindas oleh kemajuan zaman dan sulit untuk menyesuaikan kondisi di sekitar kita termasuk kepada anak-anak kita. Kita tidak bisa menjadi kita yang seadanya tanpa ada keinginan dan semangat untuk menjadi orang tua yang lebih baik.

 

Oleh :

Siti Rohimah, S.Pd I,  M.Si

Bagian Pengembangan Kurikulum Yayasan Lembaga Pendidikan Al Firdaus Surakart

GURU SEBAGAI AGEN TRANSFORMASI ETIKA

Irqas Gambar

 

Jika kita menelisik lebih dalam, salah satu persoalan mendasar dunia pendidikan kita sesungguhnya adalah kita tidaklah sedang melaksanakan pendidikan dalam arti sebenarnya, tapi hanya sekedar pengajaran. Transformasi yang terjadi hanya sebatas ilmu dengan gaya bank. Sebuah transformasi yang hanya melibatkan peran keilmuan guru dan kebodohan murid.

Dalam sistem pendidikan yang diterapkan di Brasilia pada masa Freire, anak didik tidak dilihat sebagai yang dinamis dan punya kreasi tetapi dilihat sebagai benda yang seperti wadah untuk menampung sejumlah rumusan/dalil pengetahuan. Semakin banyak isi yang dimasukkan oleh gurunya dalam “wadah” itu, maka semakin baiklah gurunya. Karena itu semakin patuh wadah itu semakin baiklah ia. Jadi, murid/anak didik hanya menghafal seluruh yang diceritrakan oleh gurunya tanpa mengerti. Anak didik adalah obyek dan bukan subyek.

Pendidikan yang demikian itulah yang disebut oleh Freire sebagai pendidikan “gaya bank”. Disebut pendidikan gaya bank sebab dalam proses belajar mengajar guru tidak memberikan pengertian kepada anak didik, tetapi memindahkan sejumlah dalil atau rumusan kepada siswa untuk disimpan yang kemudian akan dikeluarkan dalam bentuk yang sama jika diperlukan.

Anak didik adalah pengumpul dan penyimpan sejumlah pengetahuan, tetapi pada akhirnya anak didik itu sendiri yang “disimpan” sebab miskinnya daya cipta. Karena itu pendidikan gaya bank menguntungkan kaum penindas dalam melestarikan penindasan terhadap sesamanya manusia. Asumsinya, murid menjadi pintar berkat pengajaran sang guru.

Pendidikan tidak dianggap begitu penting, mungkin saja karena hasilnya dianggap kurang konkret. Justru, pengajaranlah yang begitu ditekan habis-habisan. Pendidikan dan pengajaran yang menjadi jargon sistem pendidikan kita selama bertahun-tahun, dengan demikian menghasilkan format yang tidak seimbang.

Dalam hal pengajaran guru akan bertindak sebagai orang yang paling pintar di kelas, dan siswa adalah objek yang dikenai blue print kemana guru berkehendak, sementara dalam pendidikan, yang lebih ditekankan adalah transformasi perilaku, transformasi etika, dan transformasi moralitas, bukan transformasi gaya berpikir. Tentu konsep pendidikan sesungguhnya mempunyai ruang lingkup yang lebih luas ketimbang sekadar pengajaran.

Jika seorang guru hanya menjadi penyebar pengetahuan, apa bedanya ia dengan Google? Apa bedanya ia dengan Wikipedia? Bahkan, pengetahuan yang dimiliki oleh Google dan/atau Wikipedia jauh lebih luas dibandingkan pengetahuan seorang guru. Google lebih pintar, Wikipedia lebih berpengetahuan.

Pendidikan adalah manifestasi kehidupan. Proses pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Kehidupan akan berkembang dengan optimal mana kala ada “Pemerdekaan”. Pendidikan akan kehilangan ruhnya ketika tidak ada suasana yang memerdekakan.

Semua manusia sepakat, hanya dengan pendidikan yang berkualitas bisa mengantarkan anak menjadi insan yang berkualitas. Ukuran berkualitas tentu saja bukan karena siswa mempunyai nilai sembilan atau sepuluh dalam ijazahnya karena nilai ijazah atau surat kelulusan sekolah yang sekarang ini terjadi hampir tidak mengukur kompetensi yang sebenarnya ketika menghadapi realitas sosial kehidupan. Indikasi manusia berkualitas adalah manakala seseorang sanggup memecahkan persoalan kehidupannya, kreatif, mandiri, beretika dan terus bersemangat mengembangkan pengetahuannya sehingga merasa hidup sejahtera dan berguna bagi orang lain.

Oleh karena itu, tugas seorang guru bukan hanya melulu mentransformasi pengetahuan (transformation of knowledge), tetapi yang jauh lebih penting, seorang guru juga harus mentransformasi etika (transformation of ethic).

Bukan hanya transfer tapi transformasi!

Guru menjadi role model/teladan bagi anak-didiknya tentang pengarus-utamaan etika dalam kehidupan sehari-hari. “ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”, demikian ujar Ki Hajar Dewantara.

Bisa kita bayangkan contoh kasus konkret sosok pendidik yang (maaf) cabul kepada siswanya, atau figure guru “killer” yang anti kritik dan dialog. Pendidikan menjadi roboh, kehilangan teladan, yang terjadi adalah penindasan.

Seorang guru idealnya menjadi pribadi yang jujur dan bersahaja terlebih dahulu sebelum mengajarkan tentang kejujuran dan kebersahajaan kepada murid. Jujur dan bersahaja adalah dua nilai etika yang wajib dimiliki oleh para akademisi di sekolah. Tanpa dua nilai itu -jujur dan bersahaja- para akademisi akan menjadi manusia jahat, betapapun pintarnya. Koruptor, misalnya, adalah orang-orang pintar yang mengalami krisis kejujuran dan kebersahajaan.

Dan, di abad 21 ini kita semakin melihat bahwa etika lebih dibutuhkan ketimbang pengetahuan. Orang pintar yang tidak jujur, ia menjadi hukuman bagi peradaban. Sebaliknya, orang yang pandir tapi jujur, ia masih dirindu.

Menjadi guru berarti harus siap menjadi teladan etika, menjadi among dan pamong yang ngemong dalam bahasa Ki Hajar Dewantara.

 

Bahan Bacaan Tambahan :

Dhakiri, Hanif.  Paulo Freire, Islam, dan Pembebasan, (Jakarta: Penerbit Pena, 2000)

Freire Paulo. Pedagogy of the Oppressed (New York : Continuum, 2000)

Samba, Sujono. Lebih Baik Tidak Sekolah (Yogyakarta: LKiS, 2007)

Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa. Karja Ki Hajar Dewantara, Bagian I: Pendidikan (Yogyakarta: Taman Siswa, 1962)

 

Oleh:

Irqas Aditya Herlambang

Staff Perencanaan, Penelitian, Dan Pengembangan Yayasan Lembaga Pendidikan Al Firdaus